Selasa, 20 Oktober 2015

Tips Berinvestasi Saham Secara Cerdas

Sebagai orang yang berusaha ingin melipatgandakan kekayaannya dalam hal ini uangnya, saya selalu berusaha mencari berbagai cara untuk bisa melakukannya atau mewujudkannya. Hal ini karena saya tidak mungkin untuk bekerja nonstop atau 24 jam per hari. Sebagai gantinya saya ingin uang saya yang akan bekerja untuk saya. Dengan demikian, saya tidak perlu capek-capek mengurus ini itu. Biarkanlah mereka bekerja untuk saya dan saya tahunya beres. Plus setiap tahun saya dapat menerima bagi hasil atau deviden.

Investasi yang saya maksud disini adalah berinvestasi saham di pasar modal. Kebetulan saya mempunyai profil resiko yang tinggi, dengan harapan saya pun memperoleh return (imbal hasil) yang tinggi pula. Jadinya klop khan? Saya sungguh tidak sabar kalau harus menyimpan uang saya di tabungan atau deposito, biarpun aman. Tapi hasilnya kecil plus kena pajak lagi. Apa tidak menjadi sangat kecil imbal hasil yang kita peroleh. Belum lagi dengan inflasi yang terus naik setiap tahun. Bisa-bisa nilai uang saya secara riilnya malah berkurang.

Senin, 12 Oktober 2015

Inilah Situasi Menjalang Akhir Tahun: Kejar Tayang (Target, Deadline, Resolusi, Budget)

Saya tidak tahu apakah hal ini sudah menjadi kebiasaan dan bahkan budaya? Banyak orang berusaha menyelesaikan proyek-proyeknya menjelang akhir tahun. Begitu juga dengan budget-budget yang masih belum banyak dipakai, tapi menjelang akhir tahun mendadak semua menjadi sibuk dan ikut aktif. Saya tida tahu apakah selama ini memang belum/tidak ada kesibukan? atau dana yang memang belum turun. Sementara tahun depan sudah diambang pintu untuk segera dibuka. 

Tak ketinggalan pula bagi para mahasiswa mendadak jadi ikut sibuk menjelang akhir tahun atau akhir semester. Mereka terlihat sibuk sekali dengan tugas-tugas akhirnya. Anehnya pada awal-awa tugas diberikan, mereka (mahasiswa) sama sekali tida tergerak untuk merampungkannya. Tapi justru menjelang akhir semester atau DL, ide-ide datang berhamburan mendatangi mereka, maka pantaslah kalau mereka ingin menyelesaikannya dalam satu malam. Sistem Kebut Semalam pun masih juga berlaku hingga saat ini. Makanya tidak aneh, kalau warnet, jasa pengetikan, dan fotocopy ikut juga dilibatkan untuk bersinergi dengan mereka. Praktis sekali kesibukan terlihat dimana-mana.

Sabtu, 03 Oktober 2015

Contributing to Indonesia through Stock Market

 

Beruntung sekali saya bisa hadir pada acara Money Brunch 5 yang disponsori oleh Phillip Sekuritas Indonesia untuk para blogger, dengan topik Contributing to Indonesia through Stock Market. Tujuannya diadakan acaranya ini adalah untuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya berinvestasi di Pasar Modal sebagai upaya untuk membangun perekonomian Indonesia menjadi lebih baik dan kuat.

Mengingat kondisi pasar modal Indonesia yang ada sekarang ini mayoritas masih dipegang oleh investor asing. Sehingga setiap ada gejolak di pasar global maupun internal (domestik) otomatis mereka akan menarik dananya. Maka rontoklah pasar modal kita karena mereka menarik dananya keluar. Padahal keberadaan dana dalam suatu perekonomian, ibarat darah dalam tubuh yang harus ada pada diri seseorang. Itulah sebabnya Phillip Sekuritas ingin juga mengambil bagian dalam usaha mengedukasi kepada para masyarakat, terutama para blogger.

Acara ini dihadiri oleh Bapak Nicky Hogan dari Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia; Arsya seorang Blogger, Indrasto Budisantoso, founder Jojonomics, Bapak Daniel Tedja sebagai Presiden Direktor Phillip Sekuritas Indonesia dan Bapak Rhenald Kasali. Sayangnya Bapak Rhenald Kasali tidak bisa hadir pada acara ini, sebagai gantinya dia memberikan rekaman video yang berjudul Marketing in Crisis.

Inilah kesan saya tentang dunia pasar modal. Bagi saya dunia pasar modal adalah bukan hal yang benar-benar baru, karena saya sudah beberapa kali datang untuk mengambil kelas Pasar Modal. Disamping itu saya juga mencoba aktif dengan mencari tambahan informasi dengan bergabung di groups tentang pasar modal yang saya peroleh dari internet. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah saya juga mengimbanginya dengan membaca buku-buku.

Dari sanalah akhirnya saya mempunyai keberanian untuk melangkah dan mencoba berinvestasi di pasar modal. Tanpa ada bekal ilmu yang saya punyai, sangatlah riskan. Ibaratnya saya beli kucing dalam karung, membeli sesuatu tapi tidak mengenal dan tahu apa yang kita beli. Jadi intinya, kalau kita mau beli saham, maka belilah saham yang kita kenal dan bagus fundamentalnya. Kalau masih belum percaya diri, imbangilah dengan penguasaan ilmu lebih dahulu sebelum kita praktek langsung. Hal ini sangat penting untuk menghindari kerugian atau resiko yang besar, karena kita asal pilih saham yang kita beli. Bisa saja hal itu karena rumor atau sengaja digoreng biar harganya terus naik. Padahal fundamentalnya mungkin kurang bagus.


Suasana di gedung bei dilihat dari dalam (pribadi)

Namun dari semua yang harus kita perhatikan adalah perlu kesabaran untuk bisa menjadi kaya. Memang imbal hasil kalau kita berinvestasi di pasar modal bisa sangat tinggi. Tapi kita harus bersabar dalam melakukannya. Karena hal ini perlu untuk menghindari jebakan investasi bodong, yang sering sekali kita terkecoh. 

Itulah sebabnya belajar pasar modal butuh kesabaran. Begitu juga butuh kesabaran untuk mendapatkan kekayaan yang berlimpah. Sama halnya kita butuh perjuangan untuk mengendalikan dan mengalahkan diri sendiri, agar kita bisa menyisakan uangnya untuk berinvestasi. Tanpa kita bisa menyisihkan uangnya untuk berinvestasi, sampai kapanpun kita tidak akan bisa menikmati hasil dari investasi kita seberapa bagusnya dunia pasar modal yang kita miliki. 

Akhirnya mulai berinvestasi dengan menyisihkan uangnya yang ada dengan penuh kesabaran, karena semua akan indah pada waktunya.

Gedung bei dari luar (pribadi-bisnis.liputan6.com) 

Sabtu, 26 September 2015

Ya Allah, Tolong dan Bantulah Aku

Tuhan, kenapa aku merasa gagap dalam berbicara di depan umum?. Bukan hanya gagap saja, tapi takut untuk presentasi.  Adakah yang salah dengan diriku ini? Padahal aku ingin mempunyai penjualan yang tinggi dan banyak. Tapi kenapa aku tidak mempunyai keberanian untuk mencobanya. Oh Tuhan, bantulah aku dan hamba Mu ini agar aku bisa bangkit dan bersemangat dalam berjualan. Tidak kenal menyerah, walaupun sering terasa sudah sangat lelah.

Tuhan, aku sungguh sangat membutuhkan uang dalam jumlah yang banyak saat ini, agar aku bisa segera mengantarkan anakku untuk melanjutkan pendidikannya. Aku merasa bersalah, karena aku.tidak menyiapkannya sejak dulu. Sekarang ini kebutuhan itu sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi dan aku membutuhkannya segera kalau bisa. Maka tidak ada cara lain, kecuali aku memang harus bekerja super ekstra keras dan lebih lama. Aku yakin bisa, karena karakterku selama ini bisa dipakai landasan sementara, yang perlu diikuti dan diimbangi dengan usaha yang terus menerus

Oh Tuhan, bantulah aku dalam melakukan propek, follow up dan closing agar aku bisa memperoleh tambahan uang yang banyak untuk menyiapkan dana pendidikan buat anakku. Memang aku sudah belikan asuransi pendidikan buat dia, tapi karena baru saja dimulai tentu belum ada apa-apanya, malah hampir semua masih kepotong biaya untuk asuransi. Kalaupun ada nilai tunainya, masih sangat kecil. Satu-satunya cara adalah aku harus mencarinya di luar dengan bekerja super ekstra keras dan lama.

Itu suatu resiko yang harus aku terima dan jalani sebagai orang tua. Tidak bisa mengelaknya atau mundur dan membatalkannya. Aku harus bisa dan yakin bisa dengan pertolongan Nya. Hanya itu yang bisa aku lakukan, terus berusaha tanpa kenal menyerah. Apapun hasilnya nanti,  yang penting tunjukkan dulu karyanya. Man Jadda wa Jadda. Itu yang aku yakini dan semoga aku kuat dan berhasil.

Orang lain bisa, maka aku pun harus bisa. Memang aku menyadari kalau aku masih punya banyak kendala, karena aku sendiri orangnya pendiam dan tidak banyak bicara. Bagiku sangat asing kalau aku harus memulai membuka mulut, bukan sekedar hanya menyapa. Tapi menawarkan produk, dimana tidak atau belum menyukainya. Tentunya ada banyak alasan yang bisa mereka pakai, seperti tidak punya duit, uangnya mau dipakai untuk beli rumah dulu, uangnya habis dipakai buat cicilan dan sekolah istri, dan segudang alasan, yang pada intinya mereka menolak.

Belum lagi mereka yang beralasan sudah punya polis asuransi, walaupun mereka tidak tahu apa saja yang dicovernya. Yang penting sudah saja, bagi mereka sudah lebih dari cukup. Itulah kelemahan dari kebanyakan masyarakat kita yang membeli asuransi, tapi tidak tahu manfaat apa saja yang akan mereka peroleh. Memang baru sekedar itu informasi yang mereka punya. Makanya diperlukan edukasi yang tidak kenal lelah dari para agen tenaga pemasar. Kalau tidak ya, pengetahuan masyarakat tidak akan bertambah, kecuali orang-orang yang berduit saja.

Bagaimana tidak? karena mereka yang sanggup membayar.Tapi anehnya,orang kaya pun masih ada yang beranggapan bahwa asuransi tidak sesuai dengan keyakinan mereka. Aku tidak menyangka hari gini, masih ada saja Ustadz yang memberikan pencerahan kepada murid-murid atau santrinya kalau asuransi tidak ada bedanya dengan judi, karena nasabah akan memperolehnya dalam jumlah yang besar. Walaupun kita masih belum tahu kapan mereka akan menerimanya. Padahal kematian itu sudah jelas dan menurutku perencanaan adalah merupakan ajaran agama yang menghendaki kita untuk melakukan perencanaan dari awal, agar anak-anaknya atau orang yang ditinggal nantinya menjadi beban bagi orang lain.

Apapun halangan yang aku hadapi, please Allah help me and guide me to reach my goals. Aku sungguh membutuhkan pertolongan Mu kapan saja dan dimana saja, terutama disaat yang sangat sulit ini. Kuatkanlah aku dalam melangkah dan mudahkanlah setiap urusanku. Hanya kepada Mu aku menyerahkan segala urusan dan masalahku. Semoga kesuksesan, kebahagiaan, kekayaan yang berlimpah serta kebermanfaatan bagi orang lain selalu dilimpahkan kepadaku agar apa yang menjadi cita-citaku yertaiku dalam setiap langkah dalam mewujudkan cita-citaku.

Tantangan Terberatku Mengenyahkan "I Hate Selling"

Menekuni dunia asuransi, menuntutku proaktif dan berani bertemu untuk membuka mulut ke banyak orang, dan bahkan siapa saja tida pandang bulu. Sayangnya jiwa yang supel dan mudah bergaul tidak aku miliki. boleh dikatakan atau malah dikenal orang yang sangat pendiam dan kurang bergaul. Kecuali hanya pada orang-orang tertentu yang sudah dikenalnya atau yang cocok.

Jadi jangan berharap aku akan memulai pembicaraan untuk ngomong duluan kepada orang yang belum dikenalnya atau orang asing. It's just never done it. Itu memang bukan typeku. Padahal sekarang ini sebagai agen asuransi, aku dituntut untuk berani buka mulut dan menyapa orang. Tidak hanya itu, tapi menawarkan produknya dengan cara mengedukasi masyarakat agar membelinya. Kalau aku masih belum berhasil, berarti aku harus terus belajar dan belajar lagi sampai aku bisa menjual produk-produknya sebanyak mungkin. Karena disinilah aku baru bisa memperoleh penghasilan.

Sebaliknya kalau aku belum berhasil, berarti aku belum akan menerima gajian. Keberhasilan menjual sebanding dengan upah atau gaji yang baka aku terima nantinya. Jadi jangan berharap aku bisa memperoleh penghasilan atau gaji kalau aku belum berhasil. Suka atau tidak suka harus aku jalani, selama aku masih mau mempunyai status sebagai agen asuransi.

Inilah tantangan terberatku saat ini, yaitu meniadakan dan menggantikan I Hate Selling yang ada pada diriku berubah jadi I Love Selling atau I Enjoy Selling. Kapan  itu aku bisa? Tentu aku maunya secepatnya, karena hal itu sangat penting dan berhubungan dengan besar tipisnya uang yang akan kuterima nantinya. Namun dalam prakteknya aku sendiri tidak tahu dan aku tidak mau tahu kapan hal itu terjadi. Yang penting aku mencobanya lebih dahulu, perkara hasil itu urusan nanti.

Semoga saja apa yang aku inginkan bisa menjadi nyata.  Aku tidak mengingkari kalau aku suka bisnis atau menjalankan bisnis sekarang ini. Tapi yang aku lakukan memang dengan cara membuka toko atau pasang lapak, sehingga aku tidak secara langsung atau secara aktif mendatangi pelanggan dan menjelaskannya lebih dahulu ke para calon pelanggan. Aku tidak ada masalah kalau harus menjelaskan ke para pelanggan, tapi bukan aku yang mendekati pelanggan pada awalnya. Ini yang membuatku sedikit atau harus berjuang lebih untuk bisa melakukannya.

Ya Tuhan, berikanlah aku kemudahan dalam berhubungan dengan para calon nasabah agar mereka tahu apa yang aku jelaskan dan mereka mengerti. Bukan hanya itu, tapi mereka juga membelinya dengan senang hati apa yang aku tawarkan. Karena aku sendiri juga berusaha menjuanya dengan hati dan senang hati. Jadi sama-sama beruntung dan diuntungkan. Win win solution itu tujuan akhirnya.

Kamis, 24 September 2015

Naluriku sebagai Blogger sudah Hilang?

Lama aku tidak menulis di blog membuatku sedikit kebal atau bebal dengan lingkungan di sekitarnya. Dulu aku sebentar-sebentar jepret sana jepret sini untuk mendapatkan gambar yang terbaik dari suatu keadaan. Sayangnya setelah aku tidak aktif menulis, kebiasaan itu mulai terkikis. Aku benar-benar sudah melupakan kebiasaanku dan tidak peka lagi dengan apa yang ada atau terjadi di sekelilingnya. Paling tidak foto-foto itu bisa aku kumpulkan dulu dan nantinya bisa aku pakai sebagai bahan dan bekal untuk menuliskannya. Biapun waktunya mbuh kapan aku bisa menuliskannya.

Itulah salah satu sisi jeleknya sifatku yang sudah berubah. Naluri sebagai seorang fotographer dan blogger itu benar-benar tidak ada sekarang ini pada diriku. Aku begitu masa bodoh dengan kondisi yang ada di lingkungan dan sekitarku, karena tujuan utamaku saat ini adalah untuk memberikan edukasi   kepada masyarakat. Tentunya dengan kesibukanku yang baru, aku berharap bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Jadi aku memang harus membuat prioritas apa yang harus aku lakukan, untuk fokus  dengan impian dan cita-cita yang hendak aku raih. Itulah kemauan kerasku saat ini.

Tapi kenapa aku sekarang jadi pingin sekali menulis. Apakah penyebab yang membuatku mendadak ingin sekali menulis lagi? Adakah ini karena ada rasa sayang dengan hobi atau bakat yang terpendam dalam diriku ini atau karena aku merasa suntuk atau bingung dalam mencari nasabah, sehingga aku mempunyai banyak waktu untuk menulis? ataukah sekedar pelampiasan dari kebosenan dan semangatku  yang mulai kendur untuk menjadi agen asuransi.

Entahlah aku sendiri juga bingung dengan ketrampilan personal dalam menjual yang belum meningkat hingga saat ini. Padahal aku butuh uang banget dan aku berasa sudah mencoba ketemu banyak orang, dengan kontak sana kontak sini. Memang sebagian besar yang aku temui masih menggunakan media online atau dengan media telekomunikasi, yang berupa telpon. Belum dengan ketemu langsung di lapangan dengan masyarakat. Semua yang aku temui mengatakan mengatakan tidak.

Kejadian ini yang membuatku sedikit down atau patah semangat. Tentunya dengan pertanyaan dalam hati, cara apa lagi yang harus kulakukan untuk bisa menarik dan menggaet banyak calon nasabah untuk mau mengatakan iya terhadap tawaranku. Jeleknya, aku malah jadi tidak bersemangat dengan berbagai penolakan ini, yang berarti aku seperti maju kena dan mundur kena, alias tidak berhasil dalam dua-duanya.

Ups! aku harus segera merobahnya dan semoga tulisan ini sekedar curhat karena aku sedang tida bersemangat dalam menemui klien. Semoga bisa mengingakanku nantinya.

Kamis, 03 September 2015

Kenapa Kita Sulit Menjadi Kaya?

Banyak orang ingin menjadi kaya, tapi kenapa hanya segelintir orang yang bisa mewujudkannya?.Justru kebanyakan dari kita malah baru mempunyai keinginan menjadi kaya. Sementara actions nya masih nanti atau mbuh kapan. Yang penting keinginan itu ada.

Mempunyai keinginan itu tidak dilarang dan bahkan tidak ada yang melarang. Tapi kalau hanya sebatas keinginan saja, sampai kapan pun tidak akan bisa untuk terwujud. Keinginan itu harus diimbangi dengan aksi agar apa yang diinginkan bisa tercapai. Kalau pun meleset sedikit tidak menjadi masalah, daripada tidak ada usaha sama sekali.

Itu sebabnya jarang atau tidak banyak diantara kita yang menjadi kaya, karena disamping kita perlu aksi tapi  juga harus disiplin dengan dirinya sendiri.

Berikut adalah beberapa Aksi dan disiplin yang harus dimiliki agar kita menjadi kaya:

1. Berusaha untuk belanja atau mengeluarkan uang tidak melebihi dana atau gaji yang ada atau diterima. Alias tidak boleh lebih besar pasak daripada tiang. Kegiatan ini harus kita lakukan setiap bulannya, agar keuangan kita tidak berdarah-darah, sampai kita dibuat menangis setiap melihat buku tabungan. Tanpa kita disiplin terhadap diri sendiri tentu akan sulit. Apalagi kebanyakan dari kita mempunyai sifat yang konsumtif dan suka belanja membuat kita lupa apa yang menjadi tujuan semula. Akhirnya kita begitu mudah untuk mengeluarkan uang dari saku atau dompet kita.

2. Berusaha Menyisihkan uang di awal ketika baru gajian untuk berinvestasi. Hal ini sangat penting untuk dilakukan agar uang yang kita peroleh bisa beranak pinak. Tanpa ada dana yang bisa dipakai untuk investasi, kita akan mengalami kesulitan untuk bisa mengejar keinginan di masa depan yang terus meningkat. Belum lagi dengan adanya inflasi yang terus membuntutinya. Kita tentu akan kesulitan untuk mengejar kebutuhan dan tuntutan masa depan, dimana income kita tidak bisa bergerak secepat keinginan kita. Dengan demikian gaji akan terus tergerus untuk  memenuhi kebutuhan kita sehari-hari.

Katakanlah biaya untuk membeli rumah dan segala isinya, biaya untuk pendidikan anak, dana pensiun yang diperlukan disaat kita sudah tidak bisa bekerja lagi. Sementara dana dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pemenuhan kebutuhan lainnya, termasuk untuk menjaga agar kita tetap sehat.

Semua itu perlu kita lakukan agar kita tidak menjadi beban bagi orang lain, biar pun itu dengan anak kita sendiri. Lebih baik kita mempunyai dana yang bisa kita pakai untuk melakukan banyak hal. Dengan melakukan investasi yang imbal hasilnya melebihi tingkat bunga, insha Allah semua akan aman-aman saja. Asalkan kita tetap menerapkan aturan yang ketat "tidak belanja melebihi dana yang ada."

Sayangnya kebanyakan dari kita masih sangat sulit untuk berinvestasi. Ada banyak alasan yang dipakai sebagai kambing hitam. Bisa karena habis untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, boro-boro masih ada uang sisa untuk investasi. Belum lagi alasan karena habis dipakai untuk bayar cicilan ini dan itu dan juga bayar uang sekolah anak, mana ada uang yang tersisa.

3. Satu lagi yang tidak kalah pentingnya adalah Jangan lupa untuk Berasuransi, agar kita tidak menjadi BANGKRUT. Saya sengaja menggunakan huruf besar, karena ingin menekankan betapa pentingnya kita berasuransi. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk yang ditinggal.Asuransi yang saya maksud disini adalah asuransi jiwa.

Kenapa?, Hal ini dilakukan agar disaat kita meninggal baik itu karena akit, atau kecelakaan,kesedihan bagi mereka yang ditinggal tidak berlarut-larut. Memang asuransi tidak menggantikan orang yang meninggal, tapi paling tidak mereka bisa tetap bisa hidup dengan uang SANTUNAN yang diterima, seberapa pun besarnya.

Bayangkan kalau sudah ditinggal oleh salah satu dari orang tua kita, terus masih harus mengeluarkan semua biaya-biaya untuk pengobatan maupun hutang-hutang yang lainnya. Apa tidak menambah kesedihan bagi mereka yang ditinggal? Mungkin mereka sudah mengikhlaskan kepergiannya, karena melihat penderitaan yang dialaminya, tapi janganlah beban itu terus menimbunnya setelah dia pergi meninggalkan kita.

Disini asuransi memang ada banyak jenisnya tergantung kebutuhan.Misalnya asuransi kesehatan, asuransi mobil, asuransi rumah (kita pinjam uang ke bank dan bank tidak ingin kita lari dari tanggungjawabnya); asuransi kebakaran dan asuransi bencana,baik itu karena banjir atau bencana alam. Sayangnya banyak orang yang lupa bahwa jiwanya justru sering terlupakan, menganggap bahwa masalah jiwa bukan urusan kita. Serahkan saja semua pada Tuhan apapun yang terjadi.

Betul memang, tapi menyerahkan diri sebelum kita berusaha secara maksimal, apa tidak konyol. Haruskah kita menunggu babak belur dan bangkrut baru menyerahkan diri? Harusnya kita menyerahkan diri setelah kita berusaha sekuat tenaga, baru kita serahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa. Jadi apapun yang terjadi kemudian, memang sudah diluar kemampuan kita.

Itulah sekedar catatan ringkas saya agar orang bisa menjadi kaya. Sekali lagi kedisiplinan sangat diperlukan agar kita bisa mencapai puncak yang diinginkan. Memang tidak mudah untuk dilaksankan, tapi saya yakin hal itu suatu hal yang BISA dam WAJAR dilakukan oleh siapa saja yang mau berusaha.