Rabu, 04 November 2015

Membandingkan Unit Link vs Deposito Sama Dengan Membodohi Masyarakat

Perlu dan Jangan dalam Investasi Saham(doc: kreditgogo.com)

Itulah judul tulisan dari seorang Perencana Keuangan, Aidil Akbar yang saya baca di Detikfinance edisi 3 November 2015. Tulisan lengkapnya bisa dibaca disini. Saya suka sekali membaca tulisan ini, karena selama ini saya seperti terhipnotis oleh omongan dari para Trainer dan Leader dari suatu perusahaan asuransi yang mengatakan bahwa program mereka, Unit Link jauh lebih bagus karena memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dibanding kalau kita menyimpan uangnya di bank dalam bentuk deposito. 

Apalagi dengan penekanan investasi mereka pada bluechips, yang konon kualitas saham yang paling bagus telah membuat saya menerima tanpa ada banyak pertanyaan ini dan itu. Kebetulan istilah bluechips bukan hal yang asing di telinga saya, karena saya juga menekuni dunia investasi pasar modal. Jadi apa yang didiskusikan, saya bisa menangkap dan meresponnya, paling tidak mengangguk sebagai tanda setuju dan okay.

Wow!, Bisa-bisanya sampai Tertidur di Angkutan Umum

Ilustrasi Busway (TransJakarta), doc: antaranews.com

Aku sungguh tidak menyangka sampai tiga kali tertidur di busway atau TransJakarta (TJ) dan aku harus balik karena sudah kebablasan sampai di ujung. Jadi tidak ada cara lain, selain aku harus bayar ongkosnya lagi. Lucu atau memalukan ya? Entahlah, rasanya begitu dapat tempat duduk dan melihat kanan kiri aman, aku langsung tertidur pulas. Bayangin naik dari Dukuh Atas bisa sampai bablas ke Ragunan, kalau tidak karena mengantuk sekali rasanya tidak mungkin. Mirip sekali terkena bius. Padahal seharusnya aku turun di halte Jati Padang. Untung aku tidak bawa uang banyak, sehingga tidak ada barang yang hilang. Semuanya utuh.

Seingatku untuk route Dukuh Atas - Ragunan sudah dua kali ini. Dan satunya lagi route Ragunan - Monas, sementara aku mau transfer di Sarinah daripada aku ke  Dukuh Atas karena males jalan. Eh malah ketiduran, aku langsung dibawa ke Halte Monas. Celakanya aku lupa nanya, route mana yang harus kuambil, aku langung naik saja busway berikutnya. Waduh bus TJ justru membawaku menjauh dan aku dibawa ke Harmoni, transit yang terdekat. Aku jadi ngomel-ngomel sendiri, karena ketledoranku.

Selasa, 03 November 2015

Jangan Tergiur dengan Ilustrasi dari Perhitungan Hasil Asuransi

Ilustrasi tentang Asuransi (Are You Covered) doc: asuransicerdas.com

Itulah kesimpulan akhir yang bisa saya peroleh setelah berkecimpung dan mendalami dunia asuransi. Ternyata semua itu tergantung pada kendaraan yang dipakai untuk mencapai tujuan dan kondisi saat ini. Belum tentu apa yang diomongkan oleh agen asuransi itu benar adanya, terutama yang menyangkut tabungan, investasi, dana pendidikan dan dana pensiun. Lebih baik persiapkan juga dana sampingan untuk mengantisipasi berbagai penyimpangan hasil yang ada.

Sebaliknya untuk dana kesehatan kalau kita terkena sakit, cacat tetap total dan meninggal, semua yang tertera dalam polis bisa diklaim sesuai dengan plafon yang kita pilih. Pihak asuransi pun, insha Allah akan membayar semua klaim nya asal apa yang kita lakukan sesuai dengan prosedur. Kalau semua total biaya itu ternyata lebih besar dari plafon yang kita pilih, tentunya kita juga yang akhirnya harus membayar sisa dari biaya itu. Maka lebih baik jaga kesehatan, agar penyakit yang diderita tidak begitu parah, sehingga semua biaya-biayanya bisa dicover oleh asuransi.

Minggu, 01 November 2015

Fenomena Deadliners

Ilustrasi tentang Dealiner (doc: oswego.edu)

Sebenarnya ini istilahku sendiri yang aku pakai untuk menyebut orang-orang yang suka memberesin tugas-tugas atau assignments nya menjelang akhir atau penutupan. Aku termasuk di dalamnya, karena berbagai kesibukan akhirnya tidak ada pilihan lain untuk bisa menyelesaikan tugas-tugas menjelang akhir atau penutupan. Masih mending ikut daripada tidak sama sekali, walaupun itu sebenarnya sekedar untuk menghibur diri, karena tidak bisa menyelesaikannya cepat.

Entahlah terkadang memang ide yang tidak muncul atau karena kesibukan yang menyita, maka otak pun tidak bisa dipakai untuk berpikir. Jadilah menjelang DL baru sibuk ketak-ketik, bahkan sampai lembur-lemburan. Apa boleh buat itu yang baru bisa dilakukan. Anehnya kebiasaan itu akan terus berulang dan rasanya tidak pernah ada perbaikan atau usaha untuk menjadi lebih baik dalam pengaturan waktu dan penyelesaian tugas-tugas.

Menulis itu Harus Dipaksa?


Ilustrasi Menulis dengan Hati (doc:       )

Iya, untuk sementara ini, karena aku sudah lama vacum dalam dunia tulis menulis. Maka satu-satunya cara adalah dengan memaksa diri untuk menulis. Itu yang sedang aku lakukan saat ini untuk mengembalikan feel menulisnya. Semoga dengan berjalannya waktu, aku menjadi lebih lancar dan lincah seperti dulu. Tidak apalah sekarang ini aku lakukan, karena tidak ada cara lain. Berusaha mencari penghasilan tambahan dengan cara lain, ternyata tidak bisa. 

Beruntung aku tidak punya klien orang lain, jadi kekecewaan itu sedikit terobati. Bayangkan kalau aku punya banyak klien, tentu aku akan ngomel-ngomel nggak karuan.  Dan aku pun akan terus menerus mendengar kebohongan demi kebohongan setiap harinya. Sementara dalam kenyataannya bertolak belakang dan tidak benar. Itulah yang baru saja aku temukan, ketidakcocokan antara apa yang diucapkan dengan kenyataan yang ada. Makanya aku lebih baik menghindar dari semuanya itu dan berusaha mencari jalan yang lainnya. Dan menulis itu mungkin jalan yang terbaikku saat ini, karena aku berjuang dan bergerak sendiri tanpa ada boss di atasku.

ANTAM sebagai Land Mark


Ilustrasi PT ANTAM (ANEKA TAMBANG),doc: bisnis.liputan6.com 

Entah kenapa aku merasa bangga kalau menyebut rumahku dekat dengan  Antam. Itu lho PT ANEKA TAMBANG (ANTAM) yang ada di Jalan TB Simatupang atau berlokasi di Tanjung Barat. Perusahaan ini sudah menjadi perusahaan yang terbuka (Go Public), sehingga sahamnya bisa dijualbelikan lewat pasar modal. Makanya sebagian sahamnya sudah dimiliki oleh masyarakat (35%) dan tentunya sebagian besarnya masih dimiliki pemerintah (65%), karena perusahaan ini memang termasuk salah satu BUMN. Cuma sayangnya perusahaan ini dalam laporan keuangannya mengalami kerugian tahun ini. Bahkan statusnya untuk periode Agustus 2015 - Februari 2016 ini sudah tidak masuk lagi dalam kelompok LQ45.

Sabtu, 31 Oktober 2015

Membayangkan Gramedia Mengijinkan Pengunjung untuk Membaca dan Meringkas di Tempat

Ilustrasi Toko Gramedia (doc: jateng.tribunnews.com)

Sebagai seorang yang gemar membaca buku-buku, saya selalu ingin mengupdate ilmu  setiap saat dengan membaca buku-buku baru. Sayangnya rumah saya kecil dan sudah bertumpuk buku dimana-mana, sehingga saya sendiri merasa kesulitan mau dimana buku-buku saya ditaruhnya, karena sudah seabreg banyaknya. Bahkan hampir di setiap meja pasti ada setumpukan buku saya.

Belum lagi saya mempunyai karya (tulisan) di blog Kompasiana yang sudah 400 an artikel plus tulisan di blogspot ini yang juga sudah lumayan banyak. Rencana untuk menerbitkan tulisan-tulisan saya pun akhirnya tertunda, karena keterbatasan tempat yang saya miliki. Saya sudah membayangkan akan seperti apa nantinya rumah saya dengan tambahan buku-buku yang akan diterbitkan. Pasti penuh sekali.