Selasa, 06 Agustus 2013

Kreativitas dan Karakter VS Ranking


 
Tulisan ini sekedar opini saya saja, karena melihat sistem pendidikan di Indonesia yang mengarah ke penilaian berdasarkan ranking dengan penekanan pada hafalan dibanding dengan metoda yang menggunakan akal untuk berpikir dalam mencari solusi. Jadi bisa dilihat bagaimana kebanyakan lulusan  adalah textbook thinking, mereka hafal semua yang ada di buku bahkan sampai ke titik koma nya. Sementara otak yang seharusnya dipakai untuk berpikir malah difungsikan sebagai gudang untuk menampung berbagai informasi yang ada. Padahal semua informasi itu bisa kita cari di internet melalui Mr Google.

Yang jadi masalah justru nanti sewaktu terjun di lapangan, dimana dunia ini bukan hanya hitam dan putih. Tapi benar-benar kelabu atau bahkan warna-warni mirip seperti pelangi. Bisa dibayangkan, semuanya itu tidak ada dalam buku yang dihafalkan setiap hari. Itulah sebabnya, saya lebih menekankan kreativitas  anak dengan menggunakan akal untuk berpikir, bukan untuk menghafal. Tentu akan lain hasilnya didikan anak yang terbiasa menggunakan akal dengan mereka yang berorientasi ke ranking atau nilai di kelas. Percayalah itu!!!.
Saat ini mungkin belum terasa karena kedua orang tuanya masih hidup dan masih bisa melengkapi semua kebutuhannya. Tapi bayangkan kalau semuanya sudah tiada dan mereka harus menentukan jalan hidupnya sendiri tentu akan sedikit mengalami kegundahan, kebingungan atau kegoncangan jiwa/batin. Walaupun mungkin yang terakhir kelihatan ekstrim terjadi pada anak, tapi tidak berarti itu tidak mungkin, bukan?


Dari situlah saya akhirnya berpikir, tak perlulah anak saya (Amri) mengejar rangking, tapi saya justru membiarkan anak saya bebas menggunakan akalnya untuk berpikir dan mencari apa yang terbaik buat dirinya. Dan saya bangga dengan semua pencapaian yang dia miliki, walaupun dia tidak memperoleh raning di sekolahnya. Karena saya tahu Amri memiliki banyak hal yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Itulah yang saya sebut Street Smart, kecerdasan diluar kecerdasan yang didasarkan pada standard sekolah. Bagi saya Street Smart jauh lebih penting daripada School Smart terutama untuk survival.

Berikut saya ceritakan beberapa diantaranya sekedar sample. Pertama, dia berhasil membaca 7 novel Harry Potter dan Da Vince Code dalam bahasa aslinya (Inggris), walaupun dia harus mencari sendiri  di internet dan membaca e-booknya. Setelah itu dia menulis summary nya di Kompasiana. Ke dua, dia bisa menginstall ulang berbagai jenis software di komputer yang tadinya terkena virus. Ke tiga, dia bisa mendesign ruangan untuk dipakai bisnis rental computer (warnet) sendiri, tanpa dibantu. Ke empat, dia bisa menulis novel, cerpen dan science dalam waktu luangnya. Ke lima, budi pekerti yang sungguh luar biasa, dia sangat baik kepada sesama, bersahabat, sopan dan sangat dermawan. Ke enam, dia suka bermain di ruang terbuka atau olah raga, terutama bermain sepak bola. Dia juga suka  bermain catur. Ke tujuh, dia bisa berbicara 2 bahasa (Indonesia dan Inggris) dengan lancar. Ke delapan, dia sangat memperhatikan waktu dan tidak suka datang terlambat, sehingga dia selalu berusaha untuk datang lebih awal atau ontime. Ke sembilan,  dia juga penyayang binatang, makanya kami di rumah memelihara kucing. Ke sepuluh, dia tahu hampir semua games online yang dikenal oleh anak-anak sekarang, sehingga banyak dari anak-anak dan temannya minta diajari bagaimana cara bermainnya. Ups! Maaf bagi yang tidak suka dengan games online, karena bagi saya games pun penting untuk melatih otak bertindak praktis dan untuk mengatur strategi.

Tentu apa yang bisa, dia lakukan akan bertambah dengan berjalannya waktu. Terus masih kurang apalagi karakter dan kreativitas yang dia miliki?. Masihkah saya menuntut dia untuk mendapatkan ranking di kelasnya?? It’s just no no. It’s enough for me what he has now. Of course, he has more capabilities than I have mentioned above. Itulah penilaian saya sekarang yang sudah tidak melihat ranking seorang anak, tapi lebih melihat karakter, kepribadian, kreativitas dan skills seseorang/anak. Bagi saya hal itu jauh lebih penting di masa tuanya, karena menyangkut bagaimana dia bisa survive menghadapi berbagai tantangan daripada hanya menilai seseorang berdasarkan ranking.

Mungkin untungnya bagi yang mempunyai rankings, mereka bisa diterima di sekolah yang bagus dan ternama, tidak perlu test untuk masuknya. Syukurlah kalau begitu, tapi apakah hidupnya tidak seperti dikejar-kejar karena anak harus bertahan dalam rangkingnya?. Bagi saya yang dulu pernah mengalami bagaimana harus mengejar ranking, capek bener. Saya memang termasuk anak yang suka mengejar ranking dalam berbagai jenjang pendidikan, karena saya merasa tertantang. Makanya saya termasuk salah satu anak yang rajin belajar. Bagi saya ada suatu kebanggaan tersendiri, baik buat saya maupun keluarga. Walaupun kadang saya dapat ranking kadang juga tidak, tergantung mood nya. Kalau saya lagi semangat, ranking itu pasti saya pegang. Tapi uniknya, nilai saya justru mirip roller coaster, kadang turun sampai tidak masuk ranking sama sekali. Habis itu bisa balik lagi untuk merebutnya kembali. Tapi capek bener saya harus bertahan dalam sistem yang seperti itu.

Oleh karena itu, orang boleh pinter di sekolah, tapi belum tentu bisa survive dalam kondisi yang menimpa dirinya kalau hanya didasarkan pada School Smart atau kecerdasan intelektual. Sedangkan mereka yang mempunyai Street Smart biasanya akan tahan banting, karena mereka biasa menggunakan otaknya untuk menghasilkan sesuatu yang terbaik bagi dirinya. Sehingga membuat mereka lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru sebagai cara untuk mempertahankan diri. Dengan demikian daya tahan mereka jauh lebih tinggi karena didukung oleh karakter dan kreativitas yang mereka miliki. Yang ada didalam otaknya hanyalaj mencari dan terus mencari cara yang terbaik, yang akhirnya membuat mereka jauh lebih maju.

Jadi tidak perlu khawatir bagi anak-anak yang tidak memperoleh ranking, tapi kreatif dalam menghadapi kehidupannya. Karena karyanya akan sangat dinanti oleh banyak orang. Lebih-lebih kalau karya dan usahanya bisa mempekerjakan banyak tenaga kerja, apa yang mereka lakukan akan meningkatkan kesejahteraan bagi banyak orang. Bahkan bisa menjadi kebanggan suatu bangsa dan Negara.

Begitulah dalam kenyataannya, orang yang kreatif justru banyak yang menjadi pengusaha (businessman/woman), pemilik tangga di perusahaan, sedangkan mereka yang pinter dan beranking malah bekerja untuk orang-orang yang kreatif. Contoh yang tidak asing lagi adalah Bill Gates dengan Microsoft nya, Steve Jobs dengan Apple Inc, Mark Zuckerberg dengan Facebook. Mereka adalah sekedar contoh orang-orang yang sangat  kreatif pada awal mulanya. Tapi kita bisa lihat siapa yang bisa diterima untuk bekerja di perusahaan tersebut, tentu mereka yang pinter semua. Mana mereka bisa bekerja di perusahaan tingkat dunia kalau bukan orang yang pinter atau mempunyai ranking.

Untuk masa depan Indonesia yang lebih baik, sudah saatnya kita meninggalkan sistem pendidikan yang menekankan pada hafalan dan menggantinya dengan sistem pendidikan yang lebih menekankan pada kreativitas dan karakter. Karena sistem yang terakhir inilah yang bisa mendorong suatu bangsa untuk bisa mengejar ketertinggalan dan mengatasi permasalahan yang ada di negeri ini. Karena dari mereka lah akan  muncul berbagai karya dan inovasi baru yang dihasilkan. Dan kepada mereka juga kita menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan bangsa nantinya.

Bukankah mereka penguasa masa depan? Kepada siapa lagi kita mau berharap kalau bukan kepada anak-anak kita sebagai agen perubahan? Mereka yang sekarang masih aktif, bebas bergerak dan berpikir, berkreasi dan berinovasi, diharapkan bisa menghasilkan karya-karya yang gemilang hasil karya anak negeri. Yang pada akhirnya bisa mengangkat bangsa dan negara ini dari ketertinggalan dan keterbelakangan dibandingkan dengan nengara-negara Asean lainnya.

Bagaimana menurut Anda?  Sekedar tulisan ringan di pagi hari. Silakan dishare pengalaman dan ide Anda? 

Terima kasih.

Selamat Berlibur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar