Selasa, 06 Agustus 2013

Maaf, Saya Tidak Bisa Menunggu!!!

 
If You Cannot be on Time, Then Be Early (doc: kamerican.com)

Tulisan ini sekedar intermezo saja, walaupun dalam kenyataannya saya mempunyai sifat seperti itu. Yeah,  saya memang tidak suka menunggu. Bukan apa-apa, karena semua tahu menunggu itu sangat membosankan. Apalagi kalau tidak ada yang dikerjakan. Wah, benar-benar suatu pekerjaan yang tidak saya sukai. Maaf yaa, memang begitu yang saya lakukan, karena saya sangat menghargai waktu. Dan bagi saya waktu adalah sangat berharga, bahkan  melebihi uang. Yes, Time is so precious, makanya jangan main-main waktu dengan saya. Saya akan membatalkan pertemuan itu atau saya lebih baik pulang. Bagi saya itu jauh lebih baik, karena saya juga mempunyai banyak pekerjaan di rumah.

Untuk itu, saya selalu berusaha datang on time, tapi kadang karena macet di jalan atau saya tidak tahu jalan yang akhirnya nyasar, membuat saya datangnya agak melenceng. Tapi saya selalu memberi kabar kalau terjadi apa-apa dengan kondisi di jalanan. Biar mereka pun tahu kalau saya datangnya terlambat. Kasihan menyuruh orang menunggu yang tidak pasti. Sementara mereka bisa melakukan pekerjaan lain yang lebih berguna. Jadi saling menguntungkan sesama, tidak seenaknya sendiri datang telat tidak kasih kabar.


Sebaliknya untuk masalah nyasar, sampai sekarang masih menjadi kebiasaan saya, karena saya belum banyak menguasai daerah. Jadi saya kemana-mana pasti bawa nomer telpon panitia yang mengundang atau kawan yang sama-sama berencana pergi. Kalau saya nyasar atau salah jalan, saya bisa langsung kontak teman tersebut. Itu sebagai modal saya dalam setiap blusukan atau menghadiri berbagai kegiatan.

Tetapi kalau saya sudah berusaha datang on time, ternyata masih harus menunggu. Waduh, saya  terpaksa meninggalkan tempat tersebut atau membatalkan pertemuannya. Apalagi kalau tidak ada kabar sama sekali. Setelah 2 jam baru memberi kabar lagi mau datang. Pertemuan itu langsung saya batalkan, karena saya merasa sudah menunggunya. Ternyata tidak ada kabar apapun yang menyatakan datang atau tidaknya.  Maaf yaa, saya bukannya sombong, tapi tolonglah kita sama-sama belajar untuk menghargai waktu.

Beberapa kegiatan yang akhirnya saya pulang karena saya harus menunggu. Pertama, acara peringatan  Kartini Next Generation Award 2013 yang diadakan oleh Kementrian Kominfo dan Kementrian PPPA dengan topik Inspiring Women in ICT. Acara ini dihadiri oleh Menkominfo Tifatul Sembiring dan Menteri PPPA Linda Gumelar, pada tanggal 22 April 2013 di Hotel Bidakara. Dalam acara tersebut sesuai dengan jadwal, acara dimulai jam 3.00 pm - 8:30 pm. Saya pun berusaha datang sekitar jam 3, walaupun saya sempat juga nyasar karena salah turunnya bus. Jadi saya harus muter lagi. Sampai di tempat boleh dikatakan masih sepi karena baru beberapa orang saja yang hadir. Saya kemudian mencari tetap duduk bergabung dengan mereka yang sudah lebih dahulu datang. Acara yang rencananya dimulai jam 3.00 mundur dan baru dimulai sekitar jam 4 lebih. Praktis semua acara jadi berubah semua.

Akhirnya, acara puncak penganugerahan Kartini Next Generation Award pun jadi mundur melebihi dari acara yang terjadwal. Saya yang sudah janjian sama anak, mau pulang jam 8:30 pm, mau tidak mau saya harus pulang. Sementara dua Menteri yang membidangi acara tersebut baru saja datang. Hmmm, saya memilih memenuhi janji dengan anak saya daripada saya harus menunggu dua pejabat tersebut naik ke mimbar. Karena itulah yang tertulis dalam agenda. Ternyata hampir semua peserta yang duduk di meja saya pulang. Mereka adalah 3 peserta dari  RRI, saya sendiri dan  1 lagi anggota PKK dari Wilayah Jakarta Timur. Saya tidak tahu sampai jam berapa acara Kartini Next Generation Award itu selesai. Bagi saya menepati janji jauh lebih penting, apalagi saya masih memerlukan waktu untuk perjalanan pulang.
 
Kedua, itu juga yang saya lakukan ketika saya bekerja. Saya suka bekerja pagi, karena setelah itu saya bisa bebas bergerak mau kemana saja. Tapi tidak berarti traffic pagi sepi, sama saja. Jakarta memang selalu ramai, kecuali kalau saya mau berangkat kurang dari jam 6 pagi. Saya berangkat jam 6 saja sudah tidak dapat tempat duduk. Untungnya lalu lintas relatif lancar kalau pagi.
Kalau saya sudah berusaha  sampai di kampus on time, tapi saya masih harus menunggu mahasiswa datang. Waduh, kalau sampai 30 menit mereka tidak datang dengan berbagai alasan, lebih baik saya  tinggal. Bagi saya sudah keterlaluan. Kalau dosennya saja sudah berusaha datang lebih awal dengan segala kesibukan yang ada, masih harus menunggu mahasiswanya. Lebih baik saya kosongkan kelas hari itu, karena mereka tidak menghargai waktu. Saya kemudian tanda tangan untuk mengisi kehadiran, habis itu saya pulang. Bagi saya hal itu penting sebagai pembelajaran, agar kita jangan menyia-nyiakan waktu.
 
Ketiga, kasus lainnya lagi dan ini baru saja terjadi adalah undangan Indonesian Youth Conference yang diadakan tanggal 6 Juli 2013 di Wisma Nusantara. Saya sudah berangkat jam 7:30 dengan berharap dapat mengambil tiket pagi dan mengikuti acaranya. Konon  acara itu diadakan sampai jam 10:00 malam. Hmmm, suatu acara conference yag cukup panjang sebenarnya. Bagi saya tidak apalah saya datang pagi, jadi bisa ada banyak acara yang saya ikuti. Nanti jam 1 siang saya sudah bisa pulang, kalau tidak ada acara yang menarik lagi.  Eh ternyata setelah sampai di tempat dan saya sudah mengambil tiketnya, acara yang boleh saya ikuti baru dimulai jam 10:45 am. Sementara saya sudah sampai di tempat sebelum jam 9. Praktis saya harus menunggu acara hampir 2 jam sendiri.

Saya mencoba masuk ke acara conference yang lain tidak boleh, karena memang jatah dari undangan kami hanya untuk acara media dan politik. Waduh saya harus menunggu untuk suatu conferene hampir 2 jam. Saya mencoba lihat beberapa stand yang ada kurang menarik, akhirnya saya pulang ke rumah. Perjalanan yang panjang dari rumah lebih dari 1 jam, tetapi sampai di tempat saya masih harus menunggu lagi. Terima kasih deh, saya lebih baik pulang dan istirahat di rumah. Saya bisa makan kenyang dan mengerjakan banyak hal, daripada saya menunggu yang tidak tahu apa manfaat yang akan didapat.
Maka pulanglah saya ke rumah. Kompasianer, Choirul Huda kirim sms dan menelpon kalau acara mau dimulai. Saya bilang, saya sudah sampai di rumah sekarang, karena saya tidak mau menunggu acara yang begitu lama. Masih mending kalau bisa mengikuti acara yang lain, kalau cuma bengong. Saya memang tidak bisa.

Itulah yang saya lakukan. Alhamdulillah, sampai sekarang saya masih bisa memelihara waktu dengan menepati janji. Seandainya saya tidak bisa, maka sms lah yang akan mewakili saya karena ketidakbisaan itu.  Saya berusaha memberi kabar apapun yang terjadi, seandainya saya tidak bisa datang tepat waktu. Sayangnya banyak orang cuma pinter janji, tapi tidak mau memberi kabar kalau tidak bisa menepatinya. Kalau saya, jangan biarkan orang lain menunggu tanpa ada kabar berita sedikit pun. Lebih baik bebaskan mereka untuk mengerjakan banyak hal kalau kita tidak bisa menepatinya. Biar sama-sama enaknya dan kita saling menghargai waktu seoptimal mungkin. STOP budayakan jam karet dan mari kita mulai menghargai waktu yang kita miliki.

Bagaimana menurut Anda? Sekedar sharing pengalaman bagaimana saya berusaha menghargai waktu dan yang jelas saya tidak suka menunggu. Silakan juga dishare pengalaman kalian dan bagaimana mengatasi persoalan waktu ini. 

Terima kasih

Salam Semangat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar